Sejarah Singkat
Tirta Assyifa
Brief History of
Tirta Assyifa
Tirta Assyifa merupakan pemandian air panas alami yang telah ada sejak era kolonial Belanda. Kawasan ini dulunya bagian dari kompleks pemukiman Belanda tahun 1860-an, lengkap dengan kolam renang dan rumah sakit dengan penyakit khusus kusta. Seiring waktu, tempat ini juga pernah dijadikan lokasi penahanan politik hingga akhirnya terbengkalai. Pascabanjir besar tahun 1990-an, muncul pancuran-pancuran air panas yang mulai dimanfaatkan warga sekitar untuk mandi. Awalnya hanya berupa pancuran sederhana dan kotak amal, namun semakin banyak pengunjung datang karena manfaat belerangnya yang dipercaya menyehatkan.
Melihat potensinya, Pemerintah Desa Sangubanyu bersama BUMDes mulai mengelola kawasan ini secara resmi sejak tahun 2012 dengan dukungan Dinas Pariwisata. Tirta Assyifa pun berkembang menjadi destinasi wisata air panas yang alami, sehat, dan ramah bagi pengunjung. Meskipun sempat rusak akibat banjir besar awal 2025, semangat warga dan pemerintah untuk membangkitkannya tetap kuat. Kini, Tirta Assyifa hadir sebagai wisata yang tak hanya menenangkan tubuh, tapi juga menyimpan jejak sejarah dan kearifan lokal yang patut dijaga.
Tirta Assyifa is a natural hot spring that has existed since the Dutch colonial era. The area was once part of a Dutch residential complex in the 1860s, complete with a swimming pool and a hospital for special diseases like leprosy. Over time, the place was also used as a political detention location until it was finally abandoned. After the great flood in the 1990s, hot water showers emerged and were used by local residents for bathing. Initially, it was only a simple shower and a charity box, but more and more visitors came because of the health benefits of its sulfur.
Seeing its potential, the Sangubanyu Village Government together with BUMDes began to officially manage this area since 2012 with the support of the Tourism Office. Tirta Assyifa has since developed into a natural, healthy, and friendly hot spring tourist destination. Although it was damaged by a major flood in early 2025, the spirit of the residents and the government to revive it remains strong. Now, Tirta Assyifa is a tourist spot that not only soothes the body but also holds a trace of history and local wisdom that should be preserved.
Visi Vision
Terwujudnya Kehidupan Masyarakat Desa Sangubanyu Yang Religius, Adil, Dan Sejahtera. To realize a religious, just, and prosperous life for the people of Sangubanyu Village.
Misi Mission
- Mengembangkan potensi Desa, baik potensi alam atau sumber daya manusia.Developing the potential of the Village, both natural and human resources.
- Memperkuat kelembagaan desa.Strengthening village institutions.
- Meningkatkan kualitas masyarakat melalui pemberdayaan dan program pembangunan.Improving the quality of the community through empowerment and development programs.
- Meningkatkan kualitas pelayanan publik.Improving the quality of public services.
- Menjaga kelestarian lingkungan dan mempromosikan pariwisata.Preserving the environment and promoting tourism.